Jumat, 07 Desember 2012

makalah sosiologi pendidikan


MAKALAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN
“MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN”
D
I
S
U
S
U
N
Oleh kelompok  9
Nama         :                                                                  Nim :
2. JHONAS SITUMORANG                                   6111511017(PJS A)


http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRCPeMiuCJ0ARzso-W6z1kpYQ_XM9BGLqDUuQuRdPMaNt6vd7t51w

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2011/2012
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah sosiologi pendidikan tentang masyarakat dan kebudayaan ini. kami menyadari bahwa dalam penyusunan tugas ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan makalah sosiologi pendidikan ini lebih lanjut, akan kami terima dengan senang hati. Tidak lupa kami menguucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Akhirnya, tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan makalah ini kami telah mencurahkan kemampuan, namun kami sangat menyadari bahwa hasil penyusunan makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan kami. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran serta kritik yang membangun dari berbagai pihak. semoga makalah ini dapat memenuhi proses perkuliahan “SOSIOLOGI PENDIDIKAN” dan apabila kejanggalan-kejanggalan dalam penyusunan ini. kami mohon maaf dan sekali lagi kami mengucapkan terimakasih






Medan, september 2012


                                                                                                    Kelompok 9


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………           
DAFTAR ISI………………………………………………………………             
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………             
A.    LATAR BELAKANG……………………………………………………...            
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………       
A.     PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT………………                   
1.        Masyarakat..............................................................................................
2.        Kebudayaan .......................................................................................................
B.  BENTUK-BENTUK KEBUDAYAAN...................................................... ...........
1. Kebudayaan materi.................................................................................... ..........
2. Kebudayaan non materi............................................................................. ........
C. KOMPONEN-KOMPONEN STRUKTUR DARI KEBUDAYAAN........ ...........
1. Elemen-elemen kebudayaan (Culture traits).............................................. ...........
2. Kompleks kebudayaan............................................................................... ..........
3. Pola kebudayaan........................................................................................ ........
D. TIPE-TIPE PASTISPASI KEBUDAYAAN............................................... ..........
            1).partisipasi menyeluruh(universal) ......................................................                   
            2). Partisipasi pilihan (alternaatives)........................................................                  
3). Partisipasi kekhususan (specilaity).....................................................                  
E RELATIVISME KEBUDAYAAN ............................................................             
            (1) Fanatisme suku atau bangsa (ethnosentrisme)....................................                 
(2) Goncangan kebudayaan (culture shock)............................................                  
(3) Konflik kebudayaan (culture conflict)...............................................                
F. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN....................................................              
     A. Kesimpulan.........................................................................................            
     B. Saran...................................................................................................              
G. DAFTAR PUSTAKA...............................................................................              
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan dan masyarakat memiliki keterkaitan . kebudayaan sebagai tonggak pencapaian kesempurnaan tata nilai kehidupan yang merupakan prodok yang dibuat masyarakat itu sendiri. Hal ini berarti semua kebudayaan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan yang ada hanyalah pusat-pusat kebudayaan tanpa periferi karena merupakan produk asli dari masyrakat itu sendiri. Sebuah kebudayaan yang sebelumnya dianggap pinggiran akan bisa sama kuat pengaruhnya terhadap masyarakat yang sebelumnya dianggap pusat dalam kehidupan manusia.
Wajah kebudayaan dan masyarakat yang sebelumnya dipahami sebagai proses linier yang selalu bergerak ke depan dengan berbagai penyempurnaannya juga mengalami perubahan. Kebudayaan dan masyarakat tersebut tak lagi sekadar bergerak maju tetapi juga ke samping kiri, dan kanan memadukan diri dengan kebudayaan dan masyarakat yang lain.
Masyarakat cenderung mengadaptasi berbagai kebudayaan, mengambil sedikit dari berbagai keragaman budaya yang ada, yang dirasa cocok buat individu atau kelompok, tanpa harus mengalami kesulitan untuk bertahan dalam hidup berbudaya.
Sebagai homo faber, manusia mencipta dan bekerja, untuk memperoleh kepuasan atau self fulfillment. Dalam kaca mata agama dan unsur untuk beribadah, suatu orientasi kepada kepuasan batin dan menuju ke arah sesuatu yang transendental. Di sinilah yang disebut etos bangsa itu muncul.
Etos intelektual inilah yang mendorong masyarakat untuk terus berkarya dan terus menciptakan hal-hal baru guna meningkatkan kemakmuran hidupnya, sehingga masyarakat tersebut menjadi masyarakat yang memiliki budaya tinggi



BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
      1.       Masyarakat

Masyarakat (sebagai terjemahan istilah  society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut.Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab,musyarak . Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Yakni ia adalah sebuahkomunitasyang interdependen (saling tergantung satu sama lain).Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Kemudian menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama

2.       Kebudayaan

            Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin  Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Adapun menurut Pak Parsudi dalam bukunya“Hubungan Antar Sukubangsa ” mendefinisikan “Kebudayaan sebagaikeseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yangdigunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya.Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yangterdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia,dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya”.



B. BENTUK-BENTUK KEBUDAYAAN
1. Kebudayaan materi
            Kebudayaan materi merupakan Bagian materi dari suatu kebudayaan yang meliputi segala sesuatu yang diciptakan dan digunakan oleh manusia dan mempunyai bentuk yang dapat dilihat dan diraba yang memiliki nilai lisan.
Contoh : Rumah, pakaian, mobil, kapal, gedung, dan peesawat televisi
- Artefak (karya)
            Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.
            Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

2. kebudayaan non materi
            Kebudayaan non materi merupakan kebudayaan yang merangkum semua buah karya manusia yang ia gunakan untuk menjelaskan serta dijadikan pedoman bagi tindakan-tindakannya, dan itu hanya ditemukan di dalam pikirannya orang-orang. Dikenal ada kategori dari kebudayaan non materi :
a. Norma-norma,
            norma-norma didefenisikan sebagai standart-stnadart tingkah laku yang terdapat di dalam semua masyarakat,seperti misalnya bagaimana sarannya berpakaian pada peristiwa tertentu.
Macam-macam norma yang ada di masyarakat antara lain:

1. Norma agama adalah suatu norma yang berdasarkan keyakinan seseorang, norma ini bersifat mutlak yang mengharuskan manusia taat kepada ajaran agamanya dan bila melanggar sanksinya dirasakan di dunia ataupun di akhirat.
            Misalnya, norma/akidah yang ada dalam agama Islam tentang Rukun Islam dan Rukun Iman yang harus benar-benar ditaati oleh pemeluknya.
Misalnya :
a. Melaksanakan Shalat adalah Rukun Islam pertama bagi umat Islam
b. Kepercayaan umat Hindu tentang adanya reinkarnasi yaitu adanya kelahiran kembali setelah meninggal sesuai dengan karmanya sewaktu hidup di dunia.

2. Norma kesusilaan berdasarkan pada hati nurani manusia/ahklak manusia bersifat universal, hanya sanksi norma kesusilaan bersifat relatif sesuai situasi dan kondisi masyarakatnya termasuk agama yang dianut oleh masyarakat sangat menentukan.
            Misalnya, pengutukan terhadap penghianatan, perselingkuhan suami-istri dan sebagainya.

3. Norma kesopanan adalah norma yang berpangkal dari aturan tingkah laku di masyarakat seperti cara berpakaian, pola pergaulan, dan sebagainya. Norma ini sifatnya relatif dan antara daerah satu dengan daerah lain berbeda
.
            Contoh:
a. Apabila pergi ke suatu pesta harus berpakaian pantas
b. Memberikan sesuatu menggunkaan tangan kanan, dan sebagainya.

4. Norma kebiasaan (habit) merupakan hasil proses dari perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dalam bentuk sama sehingga menjadi pola. Jadi apabila orang di dalam masyarakat melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan anggota masyarakatnya dianggap aneh/berperilaku menyimpang
.
            Misalnya:
a. Kebiasaan mengadakan selamatan untuk bayi yang baru lahir
b. Pulang kampung (mudik) di hari lebaran, dan lain-lain.
           

C. KOMPONEN-KOMPONEN STRUKTUR DARI KEBUDAYAAN
1. Elemen-elemen kebudayaan (Culture traits)
            Unit terkecil dari kebudayan yang dapat didenifisir(kenali) disebut istilah elemen kebudayaan.
            Misalnya sebatang pensil dapat dikatakan sebagai sebuah benda kebudayaan karena pencil merupakan suatu produk materi dari tingkah laku yang dipelajari. Memperdebatkan apakah tidak, misalnya kayu, grafit pada pencil, cat warna dari pensil itu, dan karet penghapus di ujung pensil, berarti masih belum memahami masalahnya. Jika unit yang menjadi masalah itu belum menunjukkan suatu kombinasi dari materi , tindakan dan ide-ide yang berkaitan dengan suatu kebutuhan atau situasi tertentu, maka unit itu memenuhi syarat untuk dikatakan saebagai sebuah elemen kebudayaan.
2. kompleks kebudayaan
            Suatu kombinasi dari elemen-elemen yang saling berkaitan yang membentuk persyaratan-persyaratan kebudayaan untuk situasi-situasi ataau aktivitas-aktivitas tertentu ialah kompleks kebudayaan.
            Permainan sepakbola menunjukkan suatu kompleks kebudayaan, karena meliputi bola sepak  di tambah suatu peraturan permainan (sebagai elemen kebudayaan) dan lian-lain.


3. pola kebudayaan
            Unit-unit yang terakhir ini disebut dengan istilah  pola-pola konfigurasi-konfigurasi kebudayaan. Kompleks-kompleks kebudayaan juga saling berpadu untuk membentuk unit-unit yang lebih luas dari kebudayaan.
            Meneruskan contoh tentang permainan sepak bola itu, suatu pola kebudayaan olahrag nasional lahir bila sepak bola, bola basket, atletik, yang masing-masing adalah kompleks-kompleks kebudayaan digabungkan menjadi satu untuk membentuk sebuah pola olahraga.

D. TIPE-TIPE PASTISPASI KEBUDAYAAN
            Menurut linton ahli antropologi mengklasipikasikan tipe-tipe partisipasi kebudayaan sebagai berikut :
1).partisipasi menyeluruh(universal)
            Adalah trait-trait kebudayaan yang diperlukan  bagi seluruh anggota dari suatu masyarakat. Kemenyeluruhan kebudayaan itu diperlukan untuk eksistensi mereka di dalam suatu masyarakat suatu bangsa tertentu, dan ini mencakup undang-undang serta adat kebiasaan yang berhubungan dengan  kehidupan keluarga, persekolahan, aktivitas-aktivitas bisnis, dan aktivitas tertentu dari pemerintahan.
Contoh :
Bagaimana semestinya menyapa seorang sahabat, perlunya memiliki surat pernikahan, atau kewajiban belajar bagi anak-anak dari usia tertentu.
2). Partisipasi pilihan (alternaatives)
            Adalah situasi-situasi dimana individu bisa memilih beberapa kemungkinan tindakan yang sama, atau hampir sama baiknya di mata masyarakat yang lebih besar.
3). partisipasi kekhususan (specilaity)
            Adalah aspek-aspek unik dari kebudayan yang tidak diikuti oleh khalayak ramai secara umum.
Contoh :
Antar lain pekerjaan kedokteran dari para dokter, anggota dinas rahasia, guru dan sebagainya
Pada hakikatnya partisipasi ini adalah suatu fungsi pembagian kerja dan coraknya bermacam-macam sesuai dengan jenis kelamin, umur, pendidikan, kelas dan posisi-posisi status yang lain.

E RELATIVISME KEBUDAYAAN
            Standart-standart tingkah laku berhubungan dengan kebudayaan di mana standart-standart itu berlaku, yaitu suatu gejala yang disebut dengan istilah relativisme kebudayaan.
            Relativisme kebudayaan menjelaskan apa sebabnya suatu perbuatan tertentu seperti misalnya memakai pakaian tanpa penutup dada dipandang pantas di dalam kebudayaan yang satu tetapi sebaliknya merupakan perbuatan yang seratus persen amoral dalam kebudayaan lain.
            Sifat relatif dari kebudayaan itu memberikan suatu penjelasan mengenai tingkah laku. Tiga dari pewujudan-perwujudan dan konsekuensi-konsekuensi tingkah laku sebagai akibat prasyarat-prasyarat yang ditentukan oleh kebudayaab itu ialah :
(1) fanatisme suku atau bangsa (ethnosentrisme)
(2) goncangan kebudayaan (culture shock), dan
(3) Konflik kebudayaan (culture conflict)

1) fanatisme suku atau bangsa (ethnosentrisme)
            Ethnosentrisme mempunyai keuntungan tertentu bagi kestabilan dan keutuhan kebudayaan. Sifat-sifat kepribadian seperti misalnya patriotism, kesetian kepada bangsa dan propinsinalisme erat hubungannya dengan Ethnosentrisme ini dan ada kalanya disebut dengan istilah fungsi-fungsi ehtnosentrisme.
(2) goncangan kebudayaan (culture shock)
            Menurut Oberg ada 4 tahap yang membentuk siklus cultural shock :
1.      Tahap inkubasi (tahap bulan madu,) ialah tanpa waktu orang merasakannya sebagai suatu pengalaman baru yang menarik tahap ini menjelaskan besar kemungkinan bahwa orang itu akan hidup lebih baik di banding hidupnya yang lama (yang tidak ada di rumahnya dahulu)
2.      Tahap kritis ialah suatu perasaan dendam tahap ini menunjukan bahwa segala Sesuatu tidak beres, misalnya kesulitan bahasa menimbulkan kesulitan terhadap pembantu rumah tangga, kesulitan di sekolah, dan segala macam kesulitan yang lain.
Pada masa inilah cultur shock itu menjadi brsifat agresif dan bersekutu bersama orang-orang sebangsanya untuk mencemoohkan segala susuatu yang gak buruk di Negara yang didatangi.


(3) Konflik kebudayaan (culture conflict)
            Konflik di pandang sebagai unsur normatif dari organisasi social. Ini merupakan suatu aspek kebudayaan yg begitu penting sehingga konflik kebudayaan tersebut perlu ditekankan sebagai sebuah konsep isimewa. Di amerika serikat terdapat banyak orang menimbulkan konflik kebudayaan di dalam pandangan mereka terhadap hal-hal seperti misalnya pembatasan kelahiran, pembacaan kitab injil di sekolah-sekolah, dan hubungan antar ras. Konflik orang tua dan anak-anaknya yang berumur belasan tahun, sedikt banyak digolongkan kedalam konflik kebudayaan dan masalah-masalah yang dhadapi oleh para imigran.
















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
            Pada saat  masyarakat berinteraksi satu sama lain, disitulah terjadi budaya atau menciptakan budaya baru(posisi waktu tertentu).Setiap daerah memiliki norma dan nilai yang berbeda, dan tingkah laku setiap daerah berbeda-beda. Misalnya dalam menyampaikan salam ada yang berjabat tangan ada juga dengan memberikan ciuman(budaya barat tertentu)
B. Saran
Sebaiknya kita sebagai masyarakat harus memahami norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam lingkungan sekitar kita dan memahaminya agar tidak ada kesalah pahaman antar masyarakat dilingkungan yang kita tempati, dan agar tidak terjadi dampak-dampak negative dalam kehidupan kita sebagai masyarakat yang berbudaya.













DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi abu.2004.sosiologi pendidikan.jakarta:rineka cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar